Senin, 30 April 2012

Contoh Soal aplikasi Moneter


Aplikasi perubahan suku bunga karena perkiraan inflasi: dampak fisher (fisher effect)
Menunjukkan pengaruh suku bunga keseimbangan terhadap peningkatan perkiraan inflasi (ketika perkiraan inflasi meningkat, maka suku bunga akan meningkat), dinamakan dengan dampak fisher.

Jika perkiraan awal inflasi adalah 5%, kurva penawaran dan permintaan awal adalah Bs1 dan Bd1 bertemu di titik 1, dimana harga obligasi keseimbangan adalah Pi.

Ketika perkiraan inflasi meningkat menjadi 10%, kurva penawaran bergerser ke kanan Bs1 ke Bs2  dan kurva permintaan bergeser ke kiri dari ds1 dan Bd2. Keseimbangan bergerak dari titik 1 ke titik 2, dan harga obligasi keseimbangan turun dari P1 ke P2 dan suku bunga keseimbangan meningkat (karena harga obligasi  berhubungan negatif dengan suku bunga).

Aplikasi perubahan suku bunga karena ekspansi siklus usaha

Menunjukkan analisis dampak ekspansi siklus usaha terhadap suku bunga (ketika kurva penawaran bergeser ke kanan lebih besar dari pergeseran kurva permintaan harga  obligasi keseimbangan turun dan suku bunga keseimbangan meningkat).

Dalam siklus usha yang ekspansif, jumlah barang dan jasa yang dihasilkan dalam perekonomian akan meningkat, demikian pula untuk pendapatan nasional.

Ketika pendapatan dan kekayaan meningkat dalam siklus usaha yang ekspansif, kurva penawaran untuk obligasi bergeser ke kanan dari Bs1 dan Bs2, begitu juga dengan kurva permintaan, ketika kekayaan seharusnya meningkat, kurva permintaan akan naik juga yaitu bergeser ke kanan dari Bd1 dan Bd2. Dengan pergerakan kurva permintaan dan penawaran ke kanan, keseimbangan mencapai pertemuan antara Bd2 dan Bs2 yang juga harus bergerak ke kanan. Akan tetapi, tergantung apakah pergeseran kurva penawaran lebih besar daripada permintaan, atau sebaliknya, keseimbangan baru dapat naik atau turun.
Ketika pergeseran kurva penawaran lebih besar daripada pergeseran kurva  permintaan, menyebabkan harga obligasi keseimbangan turun dari P1 ke P2, yang mendorong kenaikan suku bunga.

Aplikasi penjelasan rendahnya suku bunga jepang

Jepang mengalami resesi yang sangat panjang, yang disertai deflasi, yaitu laju inflasi yang negatif. Inflasi negatif menyebabkan permintaan untuk obligasi meningkat karena perkiraan imbal hasil pada asset rill turun, menyebabkan perkiraan imbal hasil obligasi naik secara relative dan selanjutnya menyebabkan kurva permintaan  bergeser ke kanan. Inflasi yang negatif juga menaikkan suku bunga rill dan demikian pula biaya peminjaman rill untuk  suku bungan nominal tertentu, selanjutnya  menyebabkan penawaran obligasi menurun dan kurva penawaran bergeser ke kiri.

Kontraksi siklus usaha dan berkurangnya peluang investasi yang menguntungkan di Jepang juga akan mendorong penurunan suku bunga, dengan menurunkan penawaran obligasi dan menggeser kurva penawaran ke kiri. Walalupun kurva permintaan juga akan bergeser ke kiri karena kekayaan menurun seiring dengan kontraksi siklus usaha, pergeseran kurva permintaan lebih kecil daripada pergeseran kurva penawaran. Sehingga harga obligasi naik dan suku bunga turun.

Kelemahan dari perekonomian Jepang dan tingkat inflasi negatif membawa suku bungan Jepang ke tingkat yang lebih rendah. Para investor lebih nyaman memiliki obligasi dalam jangka waktu 6 bulan sebagai penyimpan nilai daripada memiliki uang tunai, karena biil tersebut didenominasi dalam jumlah yang lebih besar dan dapat disimpan. Untuk itu, beberapa investor ingin memegangnya, terlepas dari tingkat  yang negatif, meskipun dalam terminology moneter para investor akan lebih baik untuk memegang uang dan sehingga suku bunga dapat turun sedikit di bawah nol.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar